Terbebasnya Mosul dan Pelajaran Bagi Indonesia

10 Juni 2017.

Pasukan keamanan Irak memasuki kota Mosul yang sebelumnya diduduki oleh militan ISIS selama 3 tahun. Perdana Menteri Irak, Haider Al-Abadi, menyatakan bahwa kemenangan ini adalah “kemenangan besar bagi para tentara dan rakyat Irak”. Ini adalah kemajuan besar bagi tentara Irak mengingat pada tahun 2014 ketika militan ISIS datang merebut Mosul, tentara ini adalah tentara yang melarikan diri dan menyerahkan Mosul begitu saja.

Sulit dibayangkan beberapa tahun yang lalu bahwa Mosul akan kembali ke pelukan pemerintah Irak dengan angkatan bersenjata yang ketakutan di hadapan musuh.

4 November 2016. Auburn, WA. 11:00 PM PST

Saya sedang berada di apartemen teman sesama mahasiswa Indonesia. Seperti banyak mahasiswa kebanyakan, kami bersenda gurau, membicarakan hari yang telah kami lewati lengkap dengan keluh kesah dan gundah gulana-nya. Semua tertawa dan gembira sampai teman saya memasang YouTube dan membuka live-streaming dari kalan CNN Indonesia.

Terpaku padangan kami. Terdiam semua lisan.

Jakarta, kota yang kami kenal dan rumah bagi sebagian besar dari kami tertutupi lautan manusia dengan pakaian putihnya. Kami memang mengetahui akan adanya aksi “besar-besaran” yang akan diadakan di ibu kota. Tapi aksi pada hari itu jauh dari apa yang terbayang di benak kami. Datangnya demonstran dari seluruh pelosok Jawa hingga Sumatra, mengubah perspektif kami secara keseluruhan tentang demonstrasi ini. Rasa takut akan Indonesia yang termakan faham fundamentalis, perlahan memasuki hati dan sanubari.

Sebagai mahasiswa yang di-didik dengan budaya toleransi dan penolakan terhadap pemahaman dogmatis, kami termenung berpikir: Pidato apa, uang sebesar apa, kejahatan sekeji apa, yang bisa menggerakan massa dari berbagai daerah untuk berkumpul di satu tempat, membela hal yang mungkin mereka sendiri tidak tahu permasalahannya. Bermodal pesan berantai bahwa keyakinannya telah ternodai, terkobar-lah amarah mereka.

Sebagai mahasiswa / mahasiswi, kita dibina dan dididik oleh tanggung jawab akademis kita masing-masing untuk menolak pemahaman tanpa alasan dan mempertanyakan segala doktrin dan pemikiran mereka yang datang lebih dahulu dari kita. Itulah mengapa kita mendapat tambahan titel “maha” di depan kata “siswa”; Kita tidak lagi menerima, kita mengolah dan merevisi pemikiran-pemikiran sebelumnya.

Ironisnya, demi mengejar angka semata, tanggung jawab akademis seorang mahasiswa yang didesain untuk mempertajam pikiran dan akal, menjadi sebuah keharusan dan keterpaksaan bagi sebagian dari kita. Hasilnya? Mahasiswa Indonesia lulus dengan nilai-nilai yang tidak menggambarkan kemampuan mereka, dan pemahaman irrasional beserta doktrin-doktrinnya menyusup masuk ke dalam sendi-sendi perkuliahan, tempat dimana seharusnya mereka menjadi musuh utama kaum intelektual.

Tim Krieger dari University of Freiburg, Jerman. Pada esainya menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat edukasi seseorang, semakin kecil kemungkinan mereka untuk disusupi faham terorisme. Jika kita bandingkan dengan Irak hari ini, Irak pada zaman Saddam Hussein adalah Irak dengan pendidikan yang inklusif, tempat dimana semua orang diberi akses ke pendidikan yang layak.  Penelitian dari Brown University, A.S, menggambarkan bagaimana model pendidikan tersebut menghasilkan negara yang sekuler, toleran, dan terbuka pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal yang berbeda 180 derajat pasca invasi Amerika Serikat di tahun 2003. Orang-orang tidak bisa mendapat pendidikan karena teror perang dan hancurnya infrastruktur. Dengan absennya pendidikan, fundamentalisme dengan mudahnya masuk dan mempengaruhi pikiran rakyat. Disinilah organisasi-organisasi seperti Al-Qaeda dan ISIS dengan mudahnya merekrut para pemuda dengan semangatnya yang masih berkobar-kobar.  

Indonesia di masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan dan permintaan kelas dunia. Jika hanya segelintir orang yang mampu menjawabnya, bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi negeri ini secara keseluruhan? Dalam skenario terburuk, paham fundamentalis akan menjadi makanan pokok setiap mahasiswa/mahasiswi Indonesia, dan Malang berubah menjadi Mosul kedua di Asia Tenggara. Sebuah kemunduran besar bagi bangsa ini jika itu yang terjadi. Cukuplah Mosul menjadi pelajaran besar bagi kita semua untuk terus mempertajam pikiran dan kritis memahami berita yang kita dengar. Bawa titel “maha” kita dengan penuh tanggung jawab, sadar akan beban yang kita tanggung untuk masa depan bangsa ini.

Yuka.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s